Gaza

Gencatan Senjata Gaza Dilanggar, Bantuan Kemanusiaan Hanya Tembus Sepertiga

Pemerintah Gaza menuding Israel secara sengaja melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan membatasi bantuan masuk. Hanya 200 dari 600 truk harian yang diizinkan, memperparah krisis kelaparan dan menghambat evakuasi korban.

GAZA – Pemerintah  secara resmi menuduh Israel melakukan pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata. Padahal, kesepakatan ini seharusnya menjadi napas bagi warga yang terjebak dalam konflik. Sayangnya, harapan itu kini meredup.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan, Israel hanya mengizinkan sekitar 200 truk bantuan masuk per hari. Angka ini sangat jauh dari 600 truk yang seharusnya menjadi komitmen kedua belah pihak. Fakta ini tentu saja memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak.

 

Krisis Bantuan di Gaza Memicu Ancaman Kelaparan

Ismail Al-Thawabteh, Kepala Kantor Media Pemerintah Gaza, dengan tegas menyampaikan kekecewaannya. “Israel mengelola kelaparan di Gaza secara perlahan dan bertahap,” ujarnya kepada Anadolu pada Senin (24/11). Pernyataan keras ini bukan tanpa dasar.

Data yang mereka kumpulkan menunjukkan tingkat malnutrisi telah melampaui 90 persen. Artinya, hampir seluruh populasi di Gaza kesulitan mengakses makanan bergizi. Kondisi ini sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan lainnya.

Kita harus memahami, kebutuhan 2,4 juta penduduk tidak bisa dipenuhi dengan bantuan yang tidak sampai separuhnya. Setiap penundaan dan pengurangan bantuan memiliki konsekuensi nyata bagi nyawa manusia.

Pelanggaran Hukum Humaniter di Bawah Reruntuhan

Masalahnya tidak berhenti di bantuan pangan saja. Thawabteh juga menyoroti pelarangan Israel terhadap masuknya alat berat. Peralatan ini sangat krusial bagi tim pertahanan sipil untuk mengevakuasi jenazah dari bawah reruntuhan bangunan.

Tindakan ini, menurutnya, merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap seluruh hukum kemanusiaan. “Ini adalah kejahatan berlapis,” tegasnya, “terdiri dari upaya kelaparan yang disengaja terhadap warga sipil dan penghalangan bantuan kemanusiaan.”

Bayangkan, keluarga yang kehilangan anggota tidak bisa memakamkan mereka dengan layak. Situasi ini semakin memperburuk luka psikologis warga yang sudah sangat menderita.

Dampak Konflik Berkepanjangan di Wilayah Gaza

Konflik yang berlarut-larut sejak Oktober 2023 telah meninggalkan jejak kehancuran yang sangat dalam. Laporan terbaru menyebutkan hampir 70.000 orang kehilangan nyawa, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, lebih dari 170.900 orang menderita luka-luka.

Serangan Israel telah mengubah sebagian besar wilayah Gaza menjadi lautan puing. Infrastruktur vital seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah hancur berantakan. Pemulihan akan membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan setelah konflik benar-benar berakhir.

Oleh karena itu, tekanan kepada para mediator dan penjamin gencatan senjata harus terus ditingkatkan. Thawabteh mendesak komunitas internasional untuk memberikan tekanan serius dan efektif. Tujuannya jelas: mendesak Israel mematuhi apa yang telah mereka tandatangani dan segera menghentikan pelanggaran berat ini.

Masa Depan Gaza dan Pentingnya Kepatuhan

Masa depan wilayah Gaza dan warganya sangat bergantung pada komitmen perdamaian dan kepatuhan terhadap kesepakatan. Setiap pelanggaran tidak hanya memperpanjang penderitaan, tetapi juga merusak fondasi kepercayaan untuk proses perdamaian jangka panjang.

Kita semua berharap agar pihak-pihak terkait segera kembali ke jalur dialog. Bantuan kemanusiaan harus bisa mengalir lancar tanpa halangan. Evakuasi dan pemulihan juga perlu segera dilakukan untuk mencegah korban jiwa yang lebih banyak lagi.

Akhirnya, situasi di Gaza mengajarkan kita tentang betapa rapuhnya perdamaian. Namun, dengan tekad dan komitmen bersama, kita masih bisa berharap terciptanya solusi berkelanjutan untuk warga Gaza. Mari kita terus mengikuti perkembangan ini dengan kritis dan penuh empati.

By bocah