SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN PROTESTAN NEGERI TARUTUNG
English
Berita Time Line
Ditulis pada hari Selasa, 10 Oktober 2017
561 Dilihat

STAKPN TARUTUNG SELENGGARAKAN KULIAH UMUM TA.2016/2017

Pada hari sabtu (10/09/2016) STAKPN Tarutung menyelenggarakan Kuliah Umum perdana bagi seluruh civitas akademika. Adapun tema yang diangkat pada kegiatan ini adalah “Pengawasan Nilai Rasa Peka Lingkungan : Upaya Pencegahan Sikap & Tindak Destruktif dan Penyalahgunaan Narkoba di Perguruan Tinggi”. Bertempat di Gedung Auditorium Kampus 2 STAKPN Tarutung, kegiatan ini menjadi sangat penting untuk diikuti secara khusus kepada para mahasiswa STAKPN Tarutung agar kiranya dapat memahami bagaimana cara pencegahan dalam dunia Narkoba.

            Hadir sebagai pembicara pada Kuliah Umum ini dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Tarutung (Taufik Hidayat selaku Kepala Cabang), Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten serdang Bedagai (L.M. Sihombing, SH, MH) dan dari STAKPN Tarutung Prof. Dr. Lince Sihombing, M.Pd. Kegiatan ini diawali dengan Kebaktian Singkat yang dibawakan oleh Pdt. Robinson Simanungkalit, M.Th.       

Kepala Cabang Bank Rakyat Indonesia Tarutung dalam paparannya mengenalkan beberapa produk uggulan BRI untuk para mahasiswa STAKPN Tarutung. Didampingi beberapa orang staf dari BRI Cabang Tarutung memberi penjelasan tentang kemudahan akses BRI ProLink kepada para peserta Kuliah Umum. Diakhir paparannya Kepala Cabang BRI Tarutung membagi-bagi hadiah kepada para mahasiswa lewat Kuis.

            Sedangkan Bapak L.M Sihombing, SH, MH selaku Kepala Badan Narkotika Nasional Kab. Serdang Bedagai dalam paparannya menyajikan judul “Pencegahan Penyalahgunaan & Peredaran Gelap Narkotika di Lingkungan Perguruan Tinggi”. Judul ini Sangat berkaitan dengan tema yang disajikan pada Kuliah umum dan menjadi sangat menarik dan sangat menambah wawasan bagi seluruh peserta Kuliah Umum. Diawal paparannya beliau menggambarkan bagaimana persentase Demand dan Supply Narkotika yang terjadi di Indonesia dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2015. Tentang jenis dan penggolongan Narkotika secara gamblang beliau menjelaskan  apa yang sesuai dengan UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pengaruh terhadap susunan saraf pusat dan Komplikasi Medik Psikiatrik (Ko-Morbiditas) merupakan pengaruh dari berbagai Narkotika yang digunakan.

            Beliau juga menambahkan bagaimana Jalur Perederan dan Modus Operandi Penyelundupan Penyalahgunaan Narkoba di wilayah Indonesia. Jalur Peredaran secara jelas digambarkan lewat Peta baik penyelundupan yang digunakan melalui Wilayah RI maupun dari wilayah luar negeri. Sedangkan untuk modus Operandi yang terjadi, ada beberapa modus yang dilakukan oleh pengedar, antara lain : Ditelan (Swallowed), Disisipkan dalam Hak Sepatu, Dilekatkan ke tubuh (Body Stripping), dimasukkan dalam papan selancar, disembunyikan dalam kaset, dikemas dalam bentuk susu bubuk, diselipkan pada kaki palsu, dan masih banyak lagi. Pidana dan denda juga sangat jelas diatur dalam UU No. 35 Tahun 2009 bagi para pemakai dan pengedar, ujar beliau.

            Sementara itu Prof. Dr. Lince Sihombing, M.Pd selaku Ketua STAKPN Tarutung menyajikan judul pada paparannya “Pemberdayaan Rasa Peka Lingkungan : Upaya Pencegahan Sikap & Tindak Destruktif di Perguruan Tinggi”. Dalam pengantar ceramah beliau menceritakan tentang bagaimana kepekaan mahasiswa terhadap lingkungannya di Asrama STAKPN Tarutung khususnya. Dimana si Mahasiswa menyalahkan si Pemborong yang memperbaiki sanitasi di lingkungan Asrama Putra tidak becus dalam bekerja. Padahal pada kenyataannya setelah dilakukan pembuktian ternyata simahasiswa lah yang tidak peka terhadap lingkungannya yang mengakibatkan sanitasi di asrama tidak berjalan dengan baik. Dari gambaran diatas beliau mengambil beberapa pelajaran penting yakni bahwa mahasiswa terbiasa tidak menyadari adanya efek sebab-akibat, mahasiswa tidak memiliki sense of bilonging, mahasiswa agama yang berpikir secara anomali. Bagaimana mengubah mind-set yang keliru ini? Ujar beliau kepada peserta kuliah umum. Pada kesempatan itu juga beliau menambahkan bahwa Pemberdayaan Nilai Rasa Peka Lingkungan harus dimulai dari diri sendiri dan jika pelaku praktek tindak destruktif ini adalah orang dewasa berarti bukan tugas orangtua maupun dosen untuk mengubahnya tetapi orang tersebut secara pribadilah yang harus mengubah sukap mereka akan bagaimana cara berdagang jujur, tetapi tetap dapat mengumpulkan untung dalam jumlah besar, dengan demikian perubahan itu memang harus dimulai dari diri sendiri. Hal yang sama juga harus dilakukan oleh mahasiswa STAKPN Tarutung terutama mereka yang beruntung bisa kuliah karena menjadi penerima beasiswa Bidik Misi serta pemegang kartu peserta PPA.  

            Tak ada gading yang tak retak itu betul. Tak ada manusia yang sempurna itu juga betul. Tetapi haruskah kita berlindung dibalik ke-2 pernyataan ini untuk menutupi ketidakinginan kita untuk melakukan radical change in conducting meaning full life? Tak dapat kah kita mempraktekkan motto hidup : “Sekali hidup, hiduplah yang berarti bukan malah menjadi beban bagi masyarakat”? ujar beliau. Jika tetesan air selang bertahun-tahun dapat mengubah batu cadas menjadi maha karya di dinding-dinding gua dan jika pisau tumput dapat ditajamkan dengan upaya yang keras dan konstan, mengapa tidak dengan manusia yang nota bene dalam hal ini adalah mahasiswa dan para dosen. Semuanya akan berpulang pada pelakunya. Nilai rasa peka terhadap lingkungan memang menjadi terasah dengan adanya kasus-kasus yang dihadapi. Tetapi tidak berarti untuk membangun dan membentuk nilai rasa peka lingkungan kita harus dihadapkan dengan masalah. Marilah memulai perubahan dari diri sendiri agar orang lain dapat melihat bahwa perubahan yang dilakukan 1 orang akan terakumulasi dalam habit positif masyarakat, ujar beliau mengakhiri. TIPD