SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN PROTESTAN NEGERI TARUTUNG
English
Berita Slide show
Ditulis pada hari Senin, 29 Agustus 2016
581 Dilihat

KETUA STAKPN TARUTUNG, Prof. Dr. Lince Sihombing, M.Pd, PEMBICARA DALAM KONGRES NASIONAL GMKI KE-35, PEREMPUAN KRISTEN INDONESIA ABAD 21 : KESIAPANNYA SEBAGAI PELAKU MEA

Kongres Nasional Gerakan Muda Kristen Indonesia (GMKI) ke-35 yang sedang berlangsung di Auditorium HKBP Seminarium Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara menjadi sebuah momen bagi para pemuda/i Kristen se-Indonesia dalam merumuskan program kerja ke depan dalam membangun serta membawa organisasi ini menjadi sebuah organisasi yang siap menghadapi perkembangan jaman. Tema yang disajikan pada kongres nasional  kali ini adalah “Kesiapan Perempuan Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)” dan membahas tentang “Tantangan dan potensi kehadiran Badan Otorita Danau Toba secara khusus di kawasan Danau Toba Propinsi Sumatera Utara”. Menjadi sebuah tema yang menarik untuk diperbincangkan ketika melihat kondisi saat ini fokus Pemerintah dalam menghadapi Pasar Masyarakat Ekonomi Asean dan fokus Pemerintah dalam pengembangan kawasan Danau Toba.

            Ketua STAKPN Tarutung, Prof. Dr. Lince Sihombing, M.Pd menaruh perhatian yang besar akan tema yang diangkat pada kongres nasional GMKI ke-35 yang saat ini sedang berlangsung. Adapun tema yang diminta oleh panitia untuk dibawakan sebagai materi oleh Ketua STAKPN Tarutung, Prof. Dr. Lince Sihombing, M.Pd pada kongres ini adalah “Perempuan Kristen Indonesia Abad 21: Kesiapannya Sebagai Pelaku MEA”. Diawal paparannya Beliau memberi motivasi dalam bentuk peribahasa bahasa Inggris “Give me a good mother, I will give you a strong nation”, terdapat derivasi yang kuat pada kalimat tersebut yang dapat digunakan memotivasi perempuan Indonesia khususnya yang masuk kategori good mother dalam menguatkan bangsa. Maka dapat kita bayangkan bagaimana jika banyak perempuan Indonesia khususnya perempuan Kristen Indonesia yang masuk kategori good mother tersebut, maka Indonesia akan lebih kuat dari negara adidaya manapun. Muncul pertanyaan kepada kita apakah perempuan Kristen Indonesia mampu menjadi pelaku-pelaku terciptanya seperti kalimat diatas di wilayah Asean dalam menghadapi dan terlibat dalam pasar MEA?? Ujar beliau.

            Selanjutnya di hadapan ratusan peserta kongres, Prof. Lince mengemukakan bagaimana persiapan Perempuan Kristen Indonesia sebagai Pelaku Ekonomi MEA. Dicontohkan kisah Ester sang Penyelamat Kaum Yahudi menjadi contoh bahwa pintar saja tidak cukup, keberadaan pintar harus ditunjang oleh keterampilan mengelola situasi, membaca dan memainkan peluang. Jika pada saat ini, GMKI mengambil salah satu tema tentang kesiapan menghadapi MEA, maka sepatutnya  Perempuan Kristen juga dapat mengambil peran untuk turut serta menjadi pelaku-pelaku MEA. Perempuan Kristen Indonesia Abad 21 dan kesiapannya sebagai pelaku MEA bukanlah berarti menisbikan peran lelaki, karena perempuan tanpa lelaki sama tak bernilainya lelaki tanpa perempuan. Maka selayaknya lelaki dan perempuan harus berjalan bersisian secara bersamaan, dan haruslah seperti “Behind a strong woman there is a wise man, Behind a succesful woman there is a strong man”. Hal yang sama telah dilakukan oleh Ester ribuan tahun yang lalu untuk menyelamatkan Kaum Yahudi dari si tukang fitnah Haman. Meski Ester begitu kuat dalam kedudukannya sebagai isteri Raja Ahasyweros tidak serta merta menggunakan posisinya untuk menghancurkan Haman tetapi dia mengatur strategi agar raja tidak merasa terpaksa meluluskan keinginannya.

            Dalam paparan yang disajikan, Prof Lince juga mengajak para peserta kongres untuk menganalisa apa saja yang dilakukan Ester agar segalanya sesuai dan betul-betul  memenuhi kepatutan, seperti mengumpulkan bukti, mencari waktu yang tepat untuk mengkomunikasikan temuannya, serta memulihkan keadaan. Apa yang dilakukan Ester ini adalah merupakan perpaduan antara pekerjaan ilmiah, keterampilan komunikasi (public speaking) yang merupakan kombinasi yang harmonis antara hard-skill dan soft-skill, serta kemampuan mengendalikan keadaan. Sudah seharusnya perempuan Kristen jauh dari biang gosip, dan harus menjadi contoh untuk menggunakan  rapport talk (menenangkan banyak orang di sekelilingmu) di atas report talk.

            Jika ada peluang Pasar MEA bagi Perempuan Kristen maka hal itu wajib direbut, maka untuk menjadi pelaku MEA sangat dibutuhkan hard-skill yang prima. Harus diingat bahwa keberhasilan butuh persiapan dan perjalanan panjang untuk dididik secara profesional. Membuang jauh-jauh pikiran jelek bahwa sebaik-baiknya tempat hanyalah Indonesia. Dan yang penting juga adalah kesiapan menjadi penduduk dunia yang dalam hal ini dibatasi oleh skope Asean. Dengan demikian soft-skill  wajib diterapkan, dan perlu mengingat bahwa budaya kita belum tentu sama dengan budaya mereka, jadi kemungkinan terjadi benturan cultural schock tidak dapat dihindari, ujar beliau.

            Diakhir paparannya, Prof. Dr. Lince Sihombing, M.Pd menyerukan kepada semua peserta Kongres bahwa sebagai mahasiswa/i Kristen yang bergabung dalam GMKI motto hidup  haruslah Ora Et Labora. Tuhan Yesus berkata bahwa orang yang bekerja layak mendapat upahnya, jika pada hari ini para mahasiwa datang jauh-jauh ke kongres yang diadakan di Auditorium HKBP Seminarium Sipoholon maka upahnya adalah tidaklah sia-sia datang karena berhak mendapat Recharge of Food of Mind. Kalian adalah ciptaan Tuhan yang sangat berharga, karena posisi  mereka sekarang ini ibarat pisau bermata dua, yang harus melakukan dua hal penting yakni : Mempersiapkan diri menjadi SDM terbaik sehingga layak diperhitungkan di pasar regional Asean, dan Mempersiapkan diri melahirkan generasi penerus Kristen sejati yang takut akan Tuhan yang mendapat berkat melimpah yakni “Takut akan Tuhan permulaan pengetahuan” dan hanya orang-orang yang berpengetahuan yang berpeluang menjadi penduduk dunia lewat pekerjaan anda di Negara-negara Asean. Jika ada Iklan televisi berkata “Be the Trend Setter Not the Follower”, Prof. Lince mengatakan para mahasiwalah pelakunya. Tuhan Yesus memberkati kita semua, ujar beliau mengakhiri dan disambut aplause dari seluruh peserta kongres. TIPD