SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN PROTESTAN NEGERI TARUTUNG
English
Pengabdian Masyarakat
Ditulis pada hari Jumat, 19 Mei 2017
93 Dilihat

POLITIK DAN TANGGUNG JAWAB UMAT KRISTEN

POLITIK DAN TANGGUNG JAWAB UMAT KRISTEN

Ance Marintan D Sitohang, SP, M.Div, M.Th

 

 

Situasi, Masalah dan Tantangan Politik Bangsa Indonesia

Indonesia dalam perjalanan sejarah pemerintahan melewati tiga fase yakni Demokrasi terpimpin atau lebih dikenal dengan era orde lama yaitu sejak kemerdekaan Indonesia dibawah kepemimpinan Ir. Soekarno, kemudian orde baru yaitu pada masa kepemimpinan Soeharto dan Era Reformasi, yaitu masa yang dimulai sejak lengsernya Soeharto tahun 1998 sampai sekarang.

Ketiga fase tersebut telah menorehkan berbagai macam sejarah baik dan buruk yang membentuk dan membekas di era reformasi. Pergantian fase itu seyogyanya adalah bertujuan untuk Indonesia yang lebih baik. Pada era reformasi seluruh sistem pemerintahan di Orde lama yang tidak sesuai dengan rakyat Indonesia telah diubah. Seperti KKN yang sengaja dibungkam karena tidak adanya kebebasan HAM, tidak adanya kebebasan pers dan tidak adanya andil rakyat dalam sistem politik Indonesia. Namun terlepas dari itu semua, tentunya sebagai negara multikultur dan masyarakatnya yang sangat dinamis, Indonesia tidak bisa terlepas dari berbagai permasalahan khususnya dalam dunia perpolitikan.

Di era reformasi, berbagai masalah pelik pun masih sering terjadi baik dalam aspek sosial, budaya, ekonomi, lingkungan hidup sampai aspek politik. Sejak pergantian kepemimpinan, bangsa Indonesia selalu mempunyai cerita sejarah masing-masing, begitu juga dengan struktur kekuasaan yang dipimpin Jokowi-JK saat ini.

Pada hakekatnya, Indonesia dibangun dengan semangat keberagaman dan kebersamaan. Indonesia adalah negara yang mengakui kehadirannya oleh karena rahmat Tuhan Yang Maha Esa, namun bukan negara agama. Berdasarkan UU yang berlaku, Negara Indonesia mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara antar warga yang beragam latar belakang, tapi tidak lupa akan identitas keagamaannya. Indonesia dibangun oleh semua suku, agama, ras, dan golongan. Tidak mengenal istilah mayoritas dan minoritas. Oleh karena itu, perlu dibangun kesadaran dan kepercayaan diri sebagai warga negara yang sama hak dan kewajibannya, memperkuat toleransi, saling harga menghargai. Inferior dan superior suatu suku, agama, dan golongan ditiadakan.

Konteks kemajemukan yang dimiliki oleh Indonesia membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang kaya akan perbedaan dalam keharmonisan. Tetapi apa yang menjadi pergumulan Indonesia semenjak negara ini dibentuk, tidak lagi sesuai dengan kondisi kenyataan sekarang ini.  Negara Indonesia sekarang ini mengalami demokrasi yang “kebablasan” karena demokrasi yang terwujud dalam negara Indonesia agak berlebihan sehingga orang merasa sangat bebas&tak ada batas dalam membela kepentingan pribadi maupun golongan dibandingkan kepentingan negara.

Akhir-akhir ini khususnya di era Pemerintahan Jokowi-JK, kondisi Indonesia kembali mengalami ujian yang sangat berat yaitu negara ini kembali diteror oleh kelompok-kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama. Bahkan kelompok tersebut sempat membuat keresahan bagi seluruh masyarakat Indonesia dengan ancaman, teror, pengeboman dibeberapa tempat umum bahkan di beberapa tempat ibadah dari agama yang berbeda dengan kelompok tersebut. Pemerintah juga diintervensi oleh beberapa kelompok yang mengatasnamakan agama dalam hal pengambilan kebijakan dan keputusan. Ini merupakan suatu fenomena yang sangat rumit dihadapi oleh bangsa ini. Akibat dari hal tersebut, sensitivitas diantara agama-agama yang ada di Indonesia semakin tinggi dan meningkat. Hujatan antar pemeluk agama yang satu dan yang lain semakin tak terelakan seperti kata suci dan kafir.

Kondisi ini membuat LSM dan organisasi-organisasi di Indonesia seakan-akan diam dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena banyak masyarakat Indonesia menganggap bahwa jika agama sudah mengeluarkan sebuah pernyataan, maka itu merupakan kebenaran yang tertinggi, sehingga fungsi evaluasi terhadap agama yang ada di Indonesia seakan-akan tidak lagi berfungsi oleh lembaga atau organisasi yang ada.

Kenyataan di atas menampakkan kondisi sosial politik keagamaan bangsa Indonesia sedang berada pada masa yang genting. Pemerintahan Jokowi-JK sangat bijak dalam mengambil tindakan persuasif atau pendekatan kepada tokoh-tokoh agama dalam membahas masalah tersebut. Tindakan persuasif tersebut didasarkan pada semangat nasionalis bangsa Indonesia, yakni semangat nasionalis yang dilandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. Hal ini menjadi sangat penting karena kelompok radikal yang mengatasnamakan salah satu agama ingin menggantikan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasar ajaran agama tersebut. Pemerintahan Jokowi-JK bekerja keras dalam menjaga pandangan masyarakat agar tetap berlandaskan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dilakukan dengan memberikan pidato kenegaraan maupun himbauan kepada seluruh rakyat Indonesia agar tidak terpancing dengan kelompok radikalisme keagamaan dan tetap menjaga interpretasi masyarakat Indonesia terhadap agama yang mereka anut karena interpretasi masyarakat terhadap agama sangat mempengaruhi kondisi sosial politik Bangsa Indonesia.

 

Tanggung Jawab Umat Kristen

Kondisi politik yang terjadi di Indonesia seperti yang sudah dipaparkan di atas, membuat umat Kristen harus memberi respon yang positif terhadap kondisi Bangsa Indonesia. Agama Kristen yang berfungsi dalam membangun mental masyarakat Indonesia secara umum harus memberikan respon yang mendukung NKRI. Gereja sebagai institusi bertugas mengarahkan pola pikir umat Kristen agar menjaga stabilitas nasional dan tidak terpancing dengan isu-isu keagamaan yang bersifat eksklusif.

Dalam Yohanes 17, Yesus berdoa agar Bapa tidak mengambil para pengikut-Nya dari dunia. Ia meminta kepada Bapa untuk menguduskan mereka dengan kebenaran yakni dalam kebenaran dan keadilan. Yesus menghendaki mereka menjadi terang dan garam dunia (Mat 5:13-16). Dengan menyimak kata dunia yang dapat berupa kosmos (tempat manusia hidup) dan aion (sistem atau struktur), kehadiran pengikut Kristus harus menjadi berkat bagi manusia dan lingkungannya, serta bagi sistem (sosial, politik, ekonomi, pertahanan keamanan dan budaya) dalam hal ini, masyarakat Kristen harus berperan serta secara aktif dalam pembangunan politik bangsa untuk menciptakan masyarakat baru yang berdasarkan hukum keadilan. Kehadiran umat Kristen dalam dunia ini mempunyai tugas khusus sebagai penegak kebenaran dan keadilan melalui suara kenabian. Dengan demikian masyarakat Kristen harus berada di dalam dunia untuk menyaksikan Injil keselamatan dan memperbarui sistem pemerintahan melalui perjuangan politik yang bersifat dialogis. Sebagai terang dan garam, para pengikut Yesus tidak bersifat eksklusif dan harus mampu hidup bersama dengan golongan masyarakat lainnya.

Agar pemerintah dapat menjalankan tugasnya dengan bertanggung jawab, orang Kristen sebagai warga gereja dan juga sebagai warga negara yang bertanggung jawab harus ikut berpartisipasi secara aktif dalam proses pembangunan bangsa. Dalam Markus 12:17, Yesus berkata, "Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah yang wajib kamu berikan kepada Allah". Yesus menuntut keseimbangan dalam bertindak. Ia menekankan keseimbangan hukum moral dan hukum. Yesus mengajar murid-muridNya untuk bertindak adil, artinya memberikan kepada pemerintah dan Allah sesuai dengan hak dan tanggung jawabnya. Salah satu bentuk partisipasi Kristen adalah mendoakan pemerintah. Rasul Paulus berkata, "Naikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tentram dalam segala kesalehan dan kehormatan" (1Tim 2:1-2). Yesus pun meminta agar para murid-Nya mendoakan para penguasa supaya mereka tidak memerintah dengan tangan besi, tetapi dengan kebenaran, keadilan, kejujuran dan ketulusan (Mrk 10:41-45).